I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan. Pembangunan tak dapat lepas dari industry sebagai sumber modal. Salah satu industri yang penting di Indonesia adalah pertambangan, salah satunya adalah tambang emas. Pengelolaan tambang emas diharapkan berdasar pada wawasan lingkungan sehingga dampak negatif yang ditimbulkan dapat ditekan seminimal mungkin.
Secara resmi aktivitas pertambangan emas yang dikelola oleh masayrakat tidak diijinakn oleh pemerintah, baik oleh pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi. Salah satu masalah yang paling meresahkan bagi masyarakat disekitar lokasi Penggunaan merkuri untuk memisah dan mengikat biji emas dengan lumpur, pasir, dan air yang tidak dikelola dengan baik akan menbawa masalah baik bagi masyarakat dan penambang, dimana merkuri yang telah terpakai untuk penglahan emas dibuang begitu saja (Subanri,2008).
Keracunan kronis oleh merkuri dapat terjadi akibat kontak kulit, makanan, minuman, dan pernafasan. Toksisitas kronis berupa gangguan sistem pencernaan dan sistem syaraf atau gingvitis. Akumulasi Hg dalam tubuh dapat menyebabkan tremor, parkinson, gangguan lensa mata berwarna abu-abu, serta anemia ringan, dilanjutkan dengan gangguan susunan syaraf yang sangat peka terhadap Hg dengan gejala pertama adalah parestesia, ataksia, disartria, ketulian, dan akhirnya kematian (Subanri,2008).
Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang sangat berlimpah. Wilayah darat di negeri kepulauan ini mengandung begitu banyak kandungan mineral, dari mulai mineral tambang hingga mineral yang ada di permukaan tanah, semisal lempung. Namun, seperti yang umumnya terjadi di negara berkembang, potensi itu hanya menjadi potensi yang teronggok saja, tanpa ada sentuhan teknologi untuk mengolahnya menjadi bahan yang lebih berharga dengan nilai tambah tinggi. Kita harus mengakui belum cukup berpikir dan bekerja keras untuk mengolah potensi alam demi meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kekayaan alam yang dimiliki harus segera dibenahi(Sunarso,2007).
Pada umumnya orang mengenal lempung sebagai benda yang tidak terlalu bernilai. Padahal sebenarnya lempung memiliki banyak kegunaan, salah satunya berfungsi sebagai adsorben, yang sedang hangat diperbincangkan para ahli sekarang. Dengan kemampuannya sebagai adsorben, maka lempung bisa digunakan untuk penjernihan minyak (seperti minyak cengkeh), dan juga ke depan sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan limbah, terutama logam berat (Sunarso,2007).
Widihati (2010) telah melakukan penelitian tentang lempung terinterkalasi surfakatan sebagai adsorben logam berat Pb2+, hasilnya dengan diinterkalasi surfaktan daya adsrpsi lemung meningkat dari 1,9764 mg/g menjadi 4,0263 mg/g. Sahara (2008) melakukan penelitian tentang lempung bentonit teraktivasi asam dan panas sebagai adsorben logam berat Cr(III), hasilnya terjadi peningkatan daya adsorben dari 3,667 mg/g sebelum terkativasi menjadi 6,973 mg/g setelah teraktivasi. Peneitian pemanfaatan lempung alam sebagai adsorben logam berat merkuri masih jarang dilakukan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, rumusan masalah yang perlu diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Berapa besar kadar merkuri dalam limbah pertambangan emas.
2. Mengurangi kadar merkuri menggunakan lempung sebagai adsorben
3. Berapa besar kadar merkuri yang dapat diserap oleh lempung yang digunakan sebagai adsorben.
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui seberapa besar kadar merkuri dari limbah pertambangan emas.
2. Membuktikan apakah tanah lepung dapat digunakan sebagai adsorben logam berat merkuri.
3. Mengetahui berapa besar kadar merkuri yang dapat diserap oleh tanah lempung.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang penggunaan lempung alam sebagia adsorben logam berat sehingga dapat terus dikembangkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 MERKURI
Raksa (nama lama: air raksa) atau merkuri atau hydrargyrum (Latin: Hydrargyrum, air/cairan perak) adalah unsur kimia pada tabel periodik dengan simbol Hg dan nomor atom 80. Unsur golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap (Hardiyanto,2010).
Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Kelimpahan Hg di bumi menempati di urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi. Di alam, merkuri (Hg) ditemukan dalam bentuk unsur merkuri (Hg0), merkuri monovalen (Hg1+), dan bivalen(Hg2+) (Hardiyanto, 2010).
Raksa banyak digunakan sebagai bahan amalgam gigi, thermometer, barometer dan peralatan ilmiah lain, walaupun penggunaannya untuk bahan pengisi termometer telah digantikan (oleh termometer alkohol, digital, atau termistor) dengan alasan kesehatan dan keamanan karena sifat toksik yang dimilikinya.Unsur ini diperoleh terutama melalui proses reduksi dari cinnabar mineral. Densitasnya yang tinggi menyebabkan benda-benda seperti bola biliar menjadi terapung jika diletakkan di dalam cairan raksa hanya dengan 20 persen volumenya terendam.
Raksa terbentuk secara alami di alam dan terdapat dalam berbagai bentuk. Dalam bentuk murni dikenal sebagai “logam” raksa (Hg (O) atau HgO). Raksa jarang ditemukan di alam dalam bentuk murni, berupa logam cair, tetapi dalam senyawa anorganik dan garam. Raksa dapat terikat sebagai monovalen atau divalen (juga dinyatakan sebagai Hg (I) dan Hg (II) ). Banyak senyawa anorganik dan organik dapat dibentuk dari Hg(II). Beberapa bentuk raksa terbentuk secara alami, yang paling sering ditemukan adalah logam raksa, merkuri sulfida, merkuri klorida, dan metil merkuri. Beberapa mikro-organisme di alam dapat mengubah raksa di alam dari satu bentuk senyawa ke bentuk senyawa lainnya (Layde,1961).
Raksa sebagai merkuri sulfida (bijih cinnabar). Sejarah menyebutkan, timbunan cinnabar menjadi sumber utama bijih dalam pertambangan raksa komersial. Logam raksa diperoleh dengan memanaskan bijih pada suhu di atas 540ºC. Bijih raksa akan menguap, dan uap-uap tersebut kemudian diambil dan didinginkan untuk membentuk logam cair raksa. Sifat fisik raksa adalah mengkilap, putih keperakan, berwujud cair pada suhu kamar. Sering digunakan sebagai cairan dalam termometer dan listrik aktif. Jika dibiarkan dalam wadah terbuka, pada suhu kamar logam raksa akan menguap. Uap raksa berwarna putih dan tanpa bau. Semakin tinggi suhu, semakin banyak uap yang dibebaskan dari logam raksa cair. Unsur raksa di atmosfer dapat mengalami transformasi dalam bentuk senyawa anorganik raksa, memungkinkan terbentuknya endapan raksa ( Zurhaar, 2010).
Senyawa anorganik raksa di antaranya raksa sulfida, HgS, raksa oksida (HgO) dan raksa klorida (HgCl2). Senyawa-senyawa raksa ini juga disebut garam raksa. Wujud fisik berupa kristal dan serbuk berwarna putih, kecuali raksa sulfida, yang merah kehitaman setelah terkena cahaya. Beberapa garam raksa (seperti HgCl2) yang cukup volatil (mudah menguap) ditemukan di atmosfer.
Ketika raksa bersenyawa dengan karbon, yang dibentuk senyawa-senyawa yang disebut raksa “organik” atau senyawa-senyawa organomerkuri seperti metil merkuri, dimetil merkuri, fenil merkuri, dan etil merkuri, namun jauh yang paling umum dijumpai sebagai kompleks raksa organik adalah metil merkuri. Senyawa anorganik dari senyawa-senyawa merkuri, baik metil merkuri dan fenil merkuri berupa “garam” (misalnya, metil merkuri klorida atau fenil merkuri asetat). Dalam keadaan murni, kebanyakan senyawa tersebut berbentuk kristal putih padat, kecuali dimetil merkuri berwujud cair.
Kompleks raksa organik yang paling banyak ditemukan di alam dan dapat diproses oleh mikroorganisme menjadi bentuk senyawa lain adalah metil merkuri. Metil merkuri dapat terakumulasi melalui rantai makanan: ikan air tawar, ikan laut dan mamalia laut. Semakin tinggi posisinya dalam rantai makanan, maka semakin meningkat pula konsentrasi metil merkurinya.
Sebagai unsur, raksa berperan penting dalam kehidupan dan juga dapat menjadi bahan kimia yang sangat berbahaya. Raksa yang telah dipisahkan dari bijih mineral atau dari bahan bakar fosil dan mineral yang tersembunyi di bumi dan limbah dilepaskan ke dalam lingkungan, dapat sangat cepat menyebar di antara permukaan bumi dan atmosfir. Di permukaan tanah, air dan di bawah sedimen menjadi sumber pembentukan biospherik seng raksa
2.2 LEMPUNG
Tanah merupakan suatu kompleks yang terdiri atas komponen padat, cair dan gas. Sebagai contoh, tanah geluh pasir (silt loam) yang memiliki tekstur ideal bagi pertumbuhan tanaman, porsi komponen padatnya pada horison permukaan menempati volume sekitar 50 % (45 % mineral dan 5 % bahan organik), komponen gasnya (udara) sekitar 20-30 % dan sisanya komponen air juga menempati sekitar 20-30 %. Tentu saja agihan (distribution) gas dan air dalam ruang pori tanah dapat berubah dengan cepat tergantung pada faktor cuaca dan sejumlah faktor lainnya (Hanudin, 2004).
Menurut Hanudin (2004) unsur-unsur yang biasanya ditemukan dalam jumlah paling banyak adalah: O, Si, Al, Fe, C, Ca, K, Na dan Mg. Ini merupakan unsur-unsur utama yang banyak ditemukan dalam kerak bumi atau bahan endapan (sediments). Oksigen merupakan unsur yang paling umum dijumpai dalam kerak bumi dan tanah. Unsur ini menyusun sekitar 47 % berat kerak bumi dan lebih dari 90 % volume kerak bumi.
Salah satu jenis tanah yang banyak terdapat di Indonesia adalah lempung (Clay). Mineral lempung terdiri dari tiga komponen utama yaitu Montmorilinite, illite, dan kaolinite. Mineral Montmorilinite mampu menyerap air lebih banyak dan memiliki luas permukaan yang lebih besar sehingga tanah yang mengandung mineral ini mudah mengembang. Struktur Kaolinite terdiri dari lapisan silika dan alumina yang terikat oleh ion Hidrogen. Struktur kaolinite membentuk lapisan tanah yang stabil karena ikatanya yang kuat sehingga mampu menahan air masuk kedalamnya. Struktur illite terdiri dari laipan silika – alimina – silika yang dipisahkan oleh ion K+ yang mempunyai sifat mengenbang. Struktur Montmorilinite mirip struktur illite hanya lapisan pemisahnya H2O yang mudah lepas sehingga tidak stabil bila tergenang air (Chen, 1975 dalam subanri, 2008).
Karena koloid lempung bermuatan negatif, kation tertarik kepada partikel lempung dan terikat secara elektrostatik pada permukaan lempung. Fenomena ini dinamakan dengan jerapan kation. Ion dengan ukuran hidratasi yang rendah, lebih dulu teradsorpsi. Urutan jerapan kation monovalen oleh lempung:
Cs > Rb > K > Na > Li
Disebut sebagai Lyotropic Series
REAKSI PERTUKARAN KATION
Reaksi pertukaran kation juga melibatkan H+ sehingga istilah “Pertukaran Kation” lebih tepat daripada “Pertukaran Basa”. Kation yang terjerap dapat ditukar oleh kation lainnya, dan proses ini dinamakan sebagai PERTUKARAN KATION. Reaksi pertukaran ini berlangsung secara instant.
Ca – Tanah + 2NH4+ à (NH4)2 – Tanah + Ca2+
Jerapan dan pertukaran kation ini mempunyai arti penting di dalam serapan hara oleh tanaman, kesuburan tanah, retensi hara dan pemupukan. Kation yang terjerap biasanya tersedia untuk tanaman dengan menukarkannya dengan ion H+ hasil respirasi akar tanaman ( Purwanto, 2009).
Hara yang ditambahkan ke dalam tanah melalui pemupukan akan diikat oleh permukaan koloid tanah dan dapat dicegah dari pelindian, sehingga dapat menghindari kemungkinan pencemaran air tanah (ground water).
KAPASITAS PERTUKARAN KATION (KPK)
KPK atau Cation Exchange Capacity (CEC) merupakan kapasitas tanah untuk menjerap atau menukar kation. Biasanya dinyatakan dalam miliekuivalen/100 g tanah atau me %, tetapi sekarang diubah menjadi cmolc/kg tanah (centimoles of charge per kilogram of dry soil).
Nilai KPK tanah bervariasi bergantung kepada tipe and jumlah koloid di dalam tanah. Pada umumnya KPK koloid tanah adalah sebagai berikut:
Koloid Tanah KPK (me %)
Humus 200
Vermikulit 100-150
Montmorilonit 70-95
Illit 10-40
Kaolinit 3-15
Seskuioksida 2-4
(Purwanto,2009)
2.3 SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM (ATOMIC ABSORPTION SPECTROSCOPY).
Peristiwa serapan atom pertama kali diamati oleh Fraunhofer ketika mengamati garis hitam pada spektrum matahari. Sedangkan yang memanfaatkan prinsip serapan atom pada bidang analisis adalah Alan Waslh pada tahun 1955. Sebelunya ahli kimia tergantuk pada cara – cara spektrofotometrik atau smetode analisis spektrografik. Beberapa cara ini sangat sulit dan memakan waktu yang lama, kemudian metode tersebut digantikan dengan metode spektroskopi serapan atom. Metode ini sangat tepat digunakan untuk menganalisis zat pada konsentrasi rendah ( Khpkar, 1990).
Menurut Khopkar (1990) prinsip metode spektroskopi serapan atom adalah absorpsi cahaya oleh atom. Atom – atom tersebut menyerap cahaya pad panjang gelombang tertentu tergantung sifat unsurnya. Metode AAS hanya tergantung pada perbandingan dan tidak bergantung pada temperature. Peralatan AAS tersusun atas tiga komponen utama yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi dan pengukur foto meterik.
Bagian – bagian intrumen AAS antara lain :
1. Lampu Katoda
Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya pada AAS dan memiliki umur atau masa pakai 1000 jam. Lampu katoda untuk menganalisis suatu unsur berbeda tergantung unsur yang dianalisis, misalnya Cu dianalisis mengunakan lampu katoda Cu.
2. Tabung Gas
Tabung gas yang digunakan pada instrument AAS adalah tabung gas asetilen yang memiliki kisaran suhu ± 20000 K
3. Ducting
Duccting merupakan cerobong asap untuk menyedot pembakaran yang langsung dihubungkan dengan cerobong bagian luar ruangan yang berfungsi membuang asap agar tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar.
4. Kompresor
Kompresor merupakan alat yang terpisah dari rangkaian alat utama karena alat ini adalah pensuplay udara pada saat pembakaran atom
5. Burner
Burner merupakan alat terpenting dalam Istrumen AAS karena dalam burner terjadi percampuran gas asetilen dengan aquabides agar tercampur merata dan ternakar sempurna.
2.4 ADSORPSI
Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan suatu fasa tertentu (gas, cair) padapermukaan adsorben yang berupa padatan. Adsordpsi ada 2 macam :
1. Physisorption (adsorpsi fisika)
Terjadi karena gaya Van der Walls dimana ketika gaya tarik molekul antara larutan dan permukaan media lebih besar daripada gaya tarik substansi terlarut dan larutan, maka substansi terlarut akan diadsorpsi oleh permukaan media. Physisorption ini memiliki gaya tarik Van der Walls yang kekuatannya relatif kecil.
Contoh :
Adsorpsi oleh karbon aktif. Aktivasi karbon aktif pada temperatur yang tinggi akan menghasilkan struktur berpori dan luas permukaan adsorpsi yang besar. Semakin besar luas permukaan, maka semakin banyak substansi terlarut yang melekat pada permukaan media adsorpsi.
1. Chemisorption (adsorpsi kimia)
Chemisorption terjadi ketika terbentuknya ikatan kimia antara substansi terlarut dalam larutan dengan molekul dalam media. Contoh : Ion exchange
Karakteristik Adsorben
Adsorben yang biasa digunakan berbentuk butiran, batangan, batu dengan diameter 0,5 sampai 10 mm. untuk pemakaian yang terus menerus diperlukan adsorben yang tahan terhadap suhu tinggi, tahan abrasi dan panas. Pada kebanyakan industri adsorben dibagi menjadi 3 kelas:
a) Oxygen-containing compounds: biasanya hydrophilic dan bersifat polar, contohnya yang terkandung dalam silica gel dan zeolites
b) Carbon-based compounds: biasanya hydrophobic dan nonpolar, contohnya yang terkandung dalam activated carbon dan graphite
c) Polymer-based compounds: terdiri dari poros porous polymer matrix mengandung polar atau nonpolar grup fungsi
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah sebagai berikut:
1. Luas permukaan
Semakin luas permukaan adsorben, maka makin banyak zat yang teradsorpsi. Luas permukaan adsorben ditentukan oleh ukuran partikel dan jumlah dari adsorben
2. Jenis adsorbat
a) Peningkatan polarisabilitas adsorbat akan meningkatkan kemampuan adsorpsi molekul yang mempunyai polarisabilitas yang tinggi (polar) memiliki kemampuan tarik menarik terhadap molekul lain dibdaningkan molekul yang tidak dapat membentuk dipol (non polar);
b) Peningkatan berat molekul adsorbat dapat meningkatkan kemampuan adsorpsi
c) Adsorbat dengan rantai yang bercabang biasanya lebih mudah diadsorb dibdaningkan rantai yang lurus.
3. Struktur molekul adsorbat
Hidroksil dan amino mengakibatkan mengurangi kemampuan penyisihan sedangkan Nitrogen meningkatkan kemampuan penyisihan
4. Konsentrasi Adsorbat
semakin besar konsentrasi adsorbat dalam larutan maka semakin banyak jumlah substansi yang terkumpul pada permukaan adsorben
5. Temperatur
a) pemanasan atau pengaktifan adsorben akan meningkatkan daya serap adsorben terhadap adsorbat menyebabkan pori-pori adsorben lebih terbuka
b) pemanasan yang terlalu tinggi menyebabkan rusaknya adsorben sehingga kemampuan penyerapannya menurun
6. pH
pH larutan mempengaruhi kelarutan ion logam, aktivitas gugus fungsi pada biosorben dan kompetisi ion logam dalam proses adsorpsi
7. Kecepatan pengadukan
menentukan kecepatan waktu kontak adsorben dan adsorbat. Bila pengadukan terlalu lambat maka proses adsorpsi berlangsung lambat pula, tetapi bila pengadukan terlalu cepat kemungkinan struktur adsorben cepat rusak, sehingga proses adsorpsi kurang optimal
8. Waktu Kontak
Penentuan waktu kontak yang menghasilkan kapasitas adsorpsi maksimum terjadi pada waktu kesetimbangan.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Kimia Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknik dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman selama 6 Bulan yaitu dari bulan oktober 2011 sampai dengan bulan maret 2012.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan – bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah tanah lempung, H2SO4 2M, aquades, HNO3, HgCl2, air limbah tambang emas.
3.2.2 Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung reaksi, Erlenmeyer, beaker glass, pH meter, magnet stirrer, ayakan ukuran 100 mesh, spektrofotometer serapan atom (AAS), dan oven.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Aktivasi Lempung
Kedalam beaker glass dimasukan 100 gram lempung kemudian ditambah 250 ml H2SO4 2M sambil diaduk dalam pengaduk magnet. Larutan dibiarkan selama 24 jam kemudian dicuci dengan iar panas sampai bebas ion sulfat . Lempung dioven pada suhu 110 – 120 0C sampai beratnya konstan kemudian di gerus dan diayak (Sahara, 2011).
3.3.2 Pembuatan Larutan Standar Hg(II) 100 ppm.
Prosedur kerja ini mengacu pada Ahmad (2003) HgCl2 ditimbang 33,829 mg dan dilarutkan dalam labu ukur 250 ml sehingga diperoleh larutan standar Hg(II) 100 ppm. Larutan dibuat dalam suasana asam dengan menambahkan 5 tetes HNO3 1%.
3.3.3 Penentuan pH optimum
Ke dalam 5 buah gelas piala 250 ml dimasukan100 ml lautan standar Hg(II) dan ditambah lempung sebanyak 2 gram. pH larutan diatur dengan menambahkan h2s04 0,1 N atau Naoh 0,1 N sampai ph tertentu (4 – 8). Larutan kemudian di aduk selama 2 menit dengan kecepatan 100rpm dan 20 menit dengan kecepatan 40 rpm. Dibiarkan beberapa saat dan diukur kadar merkuri yang tersisa.
3.3.4 penentuan konsentrasi optimum.
Ke dalam 5 buah gelas piala 250 ml dimasukan masing – masing 100 ml lautan standar Hg(II) dan di tambang lempung dengan berat 2, 4, 6, 8,dan 10 gram. Larutan diaduk dengan kecepatan 100 rpm selama 2 menit dan 40 rpm selama 20 menit. Larutan kemudian disaring dan diukur kadar merkuri yang tersisa.
3.3.5 penentuan waktu kontak optimum
Kedalam 5 gelas piala dimasukan 100 ml air lautan standar Hg(II) dan ditambah lempung dengan konsentrasi optimum, pH larutan diatur dengan penambahan H2SO4 hingga diperoleh pH optimum. Masing – masing gelas piala diaduk dengan kecepatan 40 rpm selama 15, 30, 45, 60, 75, dan 90 menit. Larutan kemudian disaring dan di ukur kadar merkuri yang tersisa.
3.3.6 Penurunah kadar Hg (II) dalam limbah tambang emas
Kedalam 3 beaker glass dimasukan 100 ml limbah kemudian ditambah 2 mg lempung teraktivasi sebanyak konsentrasi optimum. Larutan diatur pHnya dengan menambahkan H2SO4 sampai pH optimum, dan diaduk sesuai waktu kontak optimum. Larutan kemudian disaring dan diukur kadar merkuri yang tersisa.
3.4 Jadwal pelaksanaan penelitian
No Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5
1. Persiapan
2. Perlakuan
3. Pengamatan
4. Analisis data
5. Penyusunan dan penggandaan skripsi
Skema Kerja Penelitian
pembuatan larutan standar Hg(II).
Aktivasi Lempung alam
penentuan pH optimum
Penentuan Konsentrasi Optimum
Penentuan waktu kontak optimum
Penurunan kadar Hg(II) dalam air limbah
DAFTAR PUSTAKA
Sunarso.2007. lempung kita yang terlupakan. http:/ppsdms.org. dikases 29 september 2011
Subanri. 2008. Kajian beban pencemaran merkuri (Hg) terhadap air sungan Menyuke dan gangguan kesehatan pada penambang sebagai akibat penambangan emas tanpa izin (PETI) di kecamatan Menyuke Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat.
Widihati, I.A. Gede.2008. Adsorpsi ion Pb2+ oleh lempung terimterkalasi surfaktan. Jurusan kimia FMIPA universitas Udayana. Bali
Sahara, Emy. 2008. Regenerasi lempung bentonit dengan NH4 + jenuh yang diaktivasi panas dan daya adsorpsinya terhadap Cr(III)
Hardiyanto, Agus.2010. air raksa. http://agushardiyanto.blogspot.com/2010/11/air-raksa-merkuri-hydrargirum.html. diakses 30 september 2011.
Zurhaar, M. Armand. 2011. Analisis lingkungan tambang emas rakyat poboya. http://kakarmand.blogspot.com/2011/03/makalah-mata-kuliah-ilmu-lingkungan.html. diakses 30 september 2011.
Hanudin, Eko. 2004. Kimia tanah. Laboratorium kimia dan kesuburan tanah jurusan tanah fakultas pertanian UGM. Yogyakarta.
Purwanto, Benito. 2009. Pertukaran kation. http://benito.staff.ugm.ac.id/pertukaran%20kation.htm. diakses 30 september 2011.







































