PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI { Desember 26, 2008 @ 2:45 am } · { Semester 3 } { Tags: Kimia Anorganik } PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI (Purification of Material Through Recrystallization) ANNISA SYABATINI J1B107032 KELOMPOK 1 PS S-1 Kimia FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Abstract The purpose of this attempt is study one of purification method that is the recrystallization and applying at purification of ordinary cooking salt. This recrystallization method based on difference of solubility between matters purified with dirt in a certain solvent. On trial this studied way is purifying sodium chloride coming from cooking salt by using water as the solvent. That solubility between sodium chloride with pollutant enough big, hence need to be done addition of certain matters. The addition matters will form compound, especially salt, which is difficult dissolved in water. Besides, crystallization can be done by the way of making saturated solution by adding conspecific ion into condensation of matter which will be dissociated. Purification of salt at this attempt made with two steps that is initial treatment, and crystallization through evaporation. Results will be presented rendement equal to 102,81%. Keywords: recrystallization, solubility, sodium chloride, salt, contaminant. Abstrak Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari salah satu metoda pemurnian yaitu rekristalisasi dan penerapannya pada pemurnian garam dapur biasa. Metode rekristalisasi ini berdasarkan perbedaan daya larut antara zat yang dimurnikan dengan kotoran dalam suatu pelarut tertentu. Dalam percobaan ini dipelajari cara memurnikan natrium klorida yang berasal dari garam dapur dengan menggunakan air sebagai pelarutnya. Agar daya larut antara NaCl dengan pengotor cukup besar, maka perlu dilakukan penambahan zat-zat tertentu. Zat-zat tambahan itu akan membentuk senyawa, terutama garam, yang sukar larut dalam air. Selain itu, kristalisasi dapat dilakukan dengan cara membuat larutan jenuh dengan menambah ion sejenis ke dalam larutan zat yang akan dipisahkan. Pemurnian garam pada percobaan ini dibuat dengan dua tahapan yaitu perlakuan awal, dan kristalisasi melalui penguapan. Hasilnya didapatkan rendemen sebesar 102,81%. Kata Kunci : rekristalisasi, daya larut, natrium klorida, garam, zat pengotor. PENDAHULUAN Jika kita gunakan definisi konvensional yang menyatakan bahwa hablur atau kristal adalah padatan homogen yang dibatasi oleh bidang muka rata yang terbentuk secara alamiah, maka adalah benar bahwa kebanyakan padatan yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari tidak nampak sebagai kristal. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh salah satu dari dua hal berikut : pada satu pihak, banyak padatan merupakan campuran dari berbagai senyawa yang biasanya terdiri dari banyak molekul besar dengan berbagai ukuran. Tetapi kalau bahan tersebut dipisah-pisahkan untuk menghasilkan senyawa murni, maka cenderung terjadi struktur kristal. Misalnya, beberapa jenis protein dan selulosa, yang keduanya adalah bahan penyusun padatan yang terjadi secara alamiah telah diperoleh dalam tahanan kristal, walaupun kedua zat tersebut tidak ditemukan di alam dalam tahanan kristal [1]. Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-permukaan datar. Karena banyak zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam bentuk-bentuk yang jelas simetris, telah lama para ilmuwan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat padat ini juga tersusun secara simetris [2]. Kita tak boleh menyimpulkan begitu saja penataan partikel dalam sebuah kristal besar, semata-mata dari penampilan luarnya. Bila suatu zat dalam keadaan cair atau larutan mengkristal, kristal dapat terbentuk dengan tumbuh lebih ke satu arah daripada ke lain arah. Sebagaimana sebuah kubus kecil dapat berkembang menjadi salah satu dari tiga bentuk yang mungkin sebuah kubs besar, sebuah lempeng datar atau struktur panjang mirip jarum. Ketiga zat padat ini mempunyai struktur kristal kubik yang sama, namun bentuk keseluruhannya berbeda [2]. Struktur kristal ditentukan oleh gaya antar atom dan ukuran atom yang terdapat dalam kristal. Untuk menyederhanakan persoalan, kita dapat menganggap ion atau atom sebagai bola padat berjari-jari r. Struktur ada yang hexagonal close packing. Cara penyusunan bola dalam kristal tidak dapat sesederhana pada kristal logam, karena kristal ionic terdiri dari ion-ion yang bermuatan dan memiliki jenis yang berbeda [3]. Dua senyawa santon telah berhasil diisolasi dari fraksi etil asetat kayu batang Mundu Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz., yaitu 1,3,4,5,8-pentahidroksisanton (1) dan 1,4,5,8-tetrahidroksisanton (2). Senyawa (1) menunjukkan aktivitas yang tinggi sebagai antioksidan terhadap radikal bebas 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Isolasi senyawa-senyawa dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat, pemisahan komponen-komponen menggunakan berbagai cara kromatografi. Pemurnian dilakukan dengan metode rekristalisasi menggunakan campuran dua pelarut Etil asetat dan aseton menghasilkan 59 fraksi kemudian digabung menghasilkan enam fraksi gabungan yaitu fraksi X1, X2, X3, X4, X5 dan X6. Padatan pada fraksi gabungan X5 sama dengan fraksi X6 sehingga dapat digabung yang selanjutnya direkristalisasi. Rekristalisasi dilakukan sebanyak tiga kali dengan menggunakan campuran pelarut etil asetat pa dan n-heksana pa menghasilkan padatan kuning (250 mg) dengan titik leleh 231 – 232oC yang kemudian disebut senyawa (1) Fraksi gabungan Y6 (144mg) direkristalisasi menggunakan campuran pelarut etil asetat pa dan n-heksana pa menghasilkan padatan kuning (84 mg) dengan titik leleh 223–224oC yang kemudian disebut senyawa (2) [4]. Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap [5]. Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kristal-kristal yang terbentuk selamaberlangsungnya pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali (meski tak harus) makin cepat kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan, yang lagi-lagi akan membantu penyaringan. Bentuk kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus, oktahedron, atau jarum-jarum sangat menguntungkan, karena mudah dicuci setelah disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks, yang mengandung lekuk-lekuk dan lubang-lubang, akan menahan cairan induk (mother liquid), bahkan setelah dicuci dengan seksama. Dengan endapan yang terdiri dari kristal-kristal demikian, pemisahan kuantitatif lebih kecil kemungkinannya bisa tercapai [6]. Peristiwa rekristalisasi berhubungan dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang memisah dari satu fase padat dan keluar ke dalam larutannya. Endapan terbentuk jika larutan bersifat terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi molal dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung dari suhu, tekanan, konsentrasi bahan lain yang terkandung dalam larutan dan komposisi pelarutnya [6]. Dua zat yang mempunyai struktur kristal yang sama disebut isomorfik (sama bentuk), contohnya NaF dengan MgO, K2SO4 dengan K2SeO4, dan Cr2O3 dengan Fe2O3. Zat isomorfik tidak selalu dapat mengkristal bersama secara homogen. Artinya satu partikel tidak dapat menggantikan kedudukan partikel lain. Contohnya, Na+ tidak dapat menggantikan K+ dalam KCl, walaupun bentuk kristal NaCl sama dengan KCl. Suatu zat yang mempunyai dua kristal atau lebih disebut polimorfik (banyak bentuk), contohnya karbon dan belerang. Karbon mempunyai struktur grafit dan intan, belerang dapat berstruktur rombohedarl dan monoklin [2]. Selama pengendapan ukuran kristal yang terbentuk, tergantung terutama pada dua faktor penting yaitu laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali kristal akan terbentuk, dan terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh dari larutan. Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk membentuk inti baru, jadi makin besarlah laju pembentukan inti [6]. Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan netralisasi HCl dengan NaOH berair. NaCl nyaris tak dapat larut dalam alkohol , tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil dengan suhu. Garam normal, suatu garam yang tak mengandung hidrogen atau gugus hidroksida yang dapat digusur. Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu netral terhadap indikator semisal lakmus. Garam rangkap; yang terbentuk lewat kristalisasi dari larutan campuran sejumlah ekivalen dua atau lebih garam tertentu. Misalnya: FeSO4(NH4)2SO4.6H2O dan K2SO4Al4(SO4)3.24H2O. Dalam larutan, garam ini merupakan campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan mengion jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas berbeda dengan garam kompleks yang menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan[5]. METODE PERCOBAAN A. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah beaker glass, gelas arloji, kertas saring, corong, pipet tetes, kertas lakmus, pemanas listrik, labu takar dan pengaduk gelas, neraca analitik, dan botol semprot. Bahan-bahan yang digunakan adalah garam dapur, HCl encer, CaO, Ba(OH)2, amonium karbonat, dan akuades. B. Prosedur Kerja 1. Perlakuan Awal 250 ml aquades dipanaskan (diukur dengan labu ukur) dalam gelas beaker yang telah ditimbang terlebih dahulu, sampai mendidih untuk beberapa saat. 80 gram garam dapur ditimbang. Dimasukkan kedalam air panas sambil diaduk, dan dipanaskan lagi sampai mendidih, kemudian disaring. Larutan dibagi menjadi dua bagian untuk dilakukan kristalisasi menurut prosedur dibawah ini. 2. Kristalisasi melalui penguapan Sekitar 1 gram kalsium oksida (CaO) ditambahkan ke dalam bagian larutan garam dapur diatas. Larutan Ba(OH)2 encer ditambahkan tetes demi tetes sampai tetes berakhir tidak membentuk endapan lagi. Secara terus menerus tetes demi tetes ditambahkan sambil diaduk larutan 30 gram per liter (NH4)2CO3. Larutan tersebut disaring dan dinetralkan filtratnya dengan HCl encer, dites kenetralan larutan dengan kertas lakmus. Larutan diuapkan sampai kering, sehingga akan diperoleh kristal NaCl yang berwarna lebih putih dari pada garam dapur asal. Kristal tersebut ditimbang dan dihitung rendeman rekristalisasi NaCl yang telah dilakukan. V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Prosedur Awal No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan 1. 2. 3. Diambil 50 mL akuades yang telah dipanaskan dan dimasukkan ke dalam gelas beker Dimasukkan 16 gram garam dapur ke dalam gelas beker tersebut, sambil diaduk dan dipanaskan kembali. Disaring dengan kertas saring Larutan bening Massa gelas beker = 101,88 gram Garam melarut dan sedikit mengendap. Filtrat bening. 2. Kristalisasi Melalui Penguapan No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ditambahkan dengan 0,2 g CaO pada filtrat dari hasil percobaan. Ditambahkan Ba(OH)2 encer sampai tidak ada endapan lagi. Ditambahkan (NH4)2CO3. Disaring dengan kertas saring Dinetralkan filtrat dengan menambahkan HCl. Diuapkan larutan sampai kering Ditimbang berat kristal yang diperoleh Larutan menjadi putih keruh atau putih susu. Diperlukan sekitar 50 tetes Ba(OH)2 sampai tidak ada endapan V = 5 mL Larutan menjadi jernih. Diperlukan beberapa mL HCl sampai filtrat menjadi netral. Terbentuk kristal NaCl yang berwarna putih bersih. m gelas beker + kristal = 116,03 g m kristal NaCl = 14,15 g Perhitungan Diketahui : masssa kristal = 14,15 g massa garam dapur = 16 g Ditanya : rendemen …? Jawab : = 88,43 % B. Pembahasan 1. Perlakuan Awal Dalam tahap ini dilakukan proses pelarutan garam dapur ‘cap kapal’ yang berbentuk padatan menjadi suatu larutan. Akuades yang digunakan untuk melarutkan garam ini adalah akuades yang panas. Hal ini ditujukan agar garam yang dilarutkan dapat melarut dengan sempurna. Garam dapur yang dilarutkan dalam akuades panas tersebut terurai menjadi ion-ionnya yakni, ion natrium (Na+) dan ion klorida (Cl-). Garam dapur yang digunakan dalam percobaan ini merupakan garam yang belum murni. Karena itulah dalam percobaan ini dilakukan pemurnian terhadap garam dapur tersebut yang bebas dari zat pengotor. Garam dapur yang telah dilarutkan dalam akuades tersebut, dipanaskan sampai mendidih, setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring. Filtrat hasil penyaringan tersebut akan digunakan untuk proses kristalisasi pada tahap berikutnya. 2. Kristalisasi Melalui Penguapan Filtrat yang diperoleh dari tahap pertama, ditambahkan 0,2 gram kalsium oksida (CaO). Fungsi dari penambahan kalsium oksida ini adalah untuk mengendapkan zat-zat pengotor seperti zat pengotor yang di dalamnya mengandung ion Ca2+, Fe3+, dan Mg2+ yang terdapat dalam garam dapur ‘cap kapal’. Cara kerja kalsium oksida ini pada prinsipnya sama dengan tawas yakni sebagai kougulan. Pada akhirnya nanti diharapkan larutan yang diperoleh lebih murni dari garam yang semulanya belum dimurnikan. Selanjutnya ke dalam filtrat tadi juga ditambahkan larutan barium hidroksida Ba(OH)2. Penambahan ini bertujuan untuk menghilangkan endapan atau mencegah terbentuknya endapan lagi, akibat penambahan kalsium oksida tadi. Pada filtrat tadi juga ditambahkan amonium karbonat (NH4)2CO3. Penambahan ini ditujukan agar larutan tersebut menjadi jenuh. Tahap berikutnya adalah dilakukan penyaringan untuk memisahkan endapan yang merupakan zat pengotor yang terdapat dalam larutan tersebut. Kemudian filtrat yang diperoleh (bersifat basa), dinetralisasi dengan larutan yang bersifat asam yaitu HCl encer. Setelah larutan tersebut netral, maka pada larutan itu dilakukan penguapan atau pemanasan hingga terbentuk kristal garam dapur kembali (rekristalisasi). Bentuk kristal garam dapur setelah dilakukannya proses rekristalisasi adalah strukturnya lebih lembut dan warnanya putih bersih. Kristal yang diperoleh ini kemudian ditimbang. Dari hasil penimbangan diperoleh berat kristal sebesar 14,15 gram. Sedangkan rendemen yang diperoleh dari percobaan ini memiliki nilai sebesar 88,43 %. KESIMPULAN Kesimpulan dari percobaan ini adalah bahwa garam dapur yang dimurnikan pada percobaan ini, menggunakan prinsip rekristalisasi dengan penguapan, rekristalisasi adalah metode pemurnian bahan dalam hal ini adalah garam dapur dengan pembentukan kristal kembali guna menghilangkan zat pengotor, daya larut dari zat yang akan dimurnikan dengan pelarutnya akan mempengaruhi proses rekristalisasi ketika suhu dinaikkan atau ditambahkan kalor/panas, garam dapur ‘cap kapal’ yang direkristalisasi menghasilkan kristal yang berwarna putih bersih dan strukturnya lebih halus/lembut dari semula, garam dapur ‘cap kapal’ hasil rekristalisasi yang diperoleh sebesar 14,15 gram dan rendemennya sebesar 88,43 %. REFERENSI 1. Day, R.A dan Underwood. 1987. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta. 2. Keenan, C.W. 1999. Kimia untuk Universitas Jilid 2. Erlangga. Jakarta. 3. Bird, Tony. 1987. Kimia Fisika untuk Universitas. Gramedia. Jakarta. 4. Sukamat dan Ersam. 2006. Dua Senyawa Santon Dari Kayu Batang Mundu Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz. Sebagai Antioksidan. ITS. Surabaya. 5. Arsyad, M.N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta. Svehla, S. 1985. Buku Ajar Vogel: Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro. Jilid I. PT Kalman Media Pusaka. Jakarta.
memori yang tak akan terlupakan saat ospek.aku dan adik2q yang lucu2.
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Desalinasi: Menguapkan Air Laut Menjadi Air Bersih
Ditulis dalam kimia | Leave a Comment »
Definition of Chemical Equilibrium
Equilibrium Constant (a.k.a. Kc)
Le Chatelier’s Principle
——————————————————————————–
Definition of Chemical Equilibrium
Chemical equilibrium applies to reactions that can occur in both directions. In a reaction such as:
CH4(g) + H2O(g) CO(g) + 3H2(g)
The reaction can happen both ways. So after some of the products are created the products begin to react to form the reactants. At the beginning of the reaction, the rate that the reactants are changing into the products is higher than the rate that the products are changing into the reactants. Therefore, the net change is a higher number of products.
Even though the reactants are constantly forming products and vice-versa the amount of reactants and products does become steady. When the net change of the products and reactants is zero the reaction has reached equilibrium. The equilibrium is a dynamic equilibrium. The definition for a dynamic equilibrium is when the amount of products and reactants are constant. (They are not equal but constant. Also, both reactions are still occurring.)
Equilibrium Constant
To determine the amount of each compound that will be present at equilibrium you must know the equilibrium constant. To determine the equilibrium constant you must consider the generic equation:
aA + bB cC + dD
The upper case letters are the molar concentrations of the reactants and products. The lower case letters are the coefficients that balance the equation. Use the following equation to determine the equilibrium constant (Kc).
For example, determining the equilibrium constant of the following equation can be accomplished by using the Kc equation.
Using the following equation, calculate the equilibrium constant.
N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g)
A one-liter vessel contains 1.60 moles NH3, .800 moles N2, and 1.20 moles of H2. What is the equilibrium constant?
Answer: 1.85
Le Chatelier’s Principle
Le Chatelier’s principle states that when a system in chemical equilibrium is disturbed by a change of temperature, pressure, or a concentration, the system shifts in equilibrium composition in a way that tends to counteract this change of variable. The three ways that Le Chatelier’s principle says you can affect the outcome of the equilibrium are as follows:
Changing concentrations by adding or removing products or reactants to the reaction vessel.
Changing partial pressure of gaseous reactants and products.
Changing the temperature.
These actions change each equilibrium differently, therefore you must determine what needs to happen for the reaction to get back in equilibrium.
Example involving change of concentration:
In the equation
2NO(g) + O2(g) 2NO2(g)
If you add more NO(g) the equilibrium shifts to the right producing more NO2(g)
If you add more O2(g) the equilibrium shifts to the right producing more NO2(g)
If you add more NO2(g) the equilibrium shifts to the left producing more NO(g) and O2(g)
Example involving pressure change:
In the equation
2SO2(g) + O2(g) 2SO3(g),
an increase in pressure will cause the reaction to shift in the direction that reduces pressure, that is the side with the fewer number of gas molecules. Therefore an increase in pressure will cause a shift to the right, producing more product. (A decrease in volume is one way of increasing pressure.)
Example involving temperature change:
In the equation
N2(g) + 3H2(g) 2NH3 + 91.8 kJ,
an increase in temperature will cause a shift to the left because the reverse reaction uses the excess heat. An increase in forward reaction would produce even more heat since the forward reaction is exothermic. Therefore the shift caused by a change in temperature depends upon whether the reaction is exothermic or endothermic.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
equilibrium and pressure problem
« on: April 01, 2008, 08:29:23 PM »
——————————————————————————–
Once again, I came across an equilibrium problem and I don’t know where to start…can someone guide me through this one?
At 900 C, Kp= 1.04 for the reaction:
CaCO3(s) (—->equilibrium sign<—-) CaO(s) + CO2 (g)
At a low temperature, dry ice (solid CO2), calcium oxide and calcium carbonate are introduced into a 50.0 L reaction chamber. The temperature is raised to 900 Celcius, resulting in the dry ice converting to gaseous CO2. For the mixture below, will the initial amount of calcium oxide increase, decrease, or remain the same as the system moves toward equilibrium at 900 celcius?
655 g CaCO3 95.0 g CaO PCO2= 2.55 atm
this is how I think I should start it
covert the CaCO3 and the CaO into moles
divide it by 50.0 L (to get molar concentration)
and that’s all I know..I’m still not sure what we’re looking for. It ofcourse has to do with the initial amount of calcium oxide..but what does the amount represent? is it concentration? Kp? Please help!
Re: equilibrium and pressure problem
« Reply #1 on: April 01, 2008, 10:22:02 PM »
——————————————————————————–
Actually, it’s much simpler than that.
Kp = pCO2 (the other product and reactant do not appear in the equilibrium expression because they are solids).
At equilibrium at 900 C, Kp has a value of 1.04 , which means the pCO2 at equilibrium must be equal to 1.04 atm.
However, the actual pCO2 is given as 2.55 atm, which is much larger than it should be if the system were at equilibrium at 900C.
Therefore, the system will shift to the left, increasing the amount of solid CaCO3, and reducing the amount of CaO and CO2. Assuming that the temperature remains constant this process will continue until the pCO2 falls to 1.04 atm, at which point the system will be at equilibrium.
http://www.mychemistrytutor.com/forums/index.php?topic=1244.msg4384;topicseen
Ditulis dalam berita | Leave a Comment »
Kemarin saya beserta temen2 mengunjungi “pabrik pengolahan buah kelapa” milih Bapak DR. Bambang Setiaji, M.Sc. Beliau merupakan pelopor Virgin Coconut Oil (VCO) Indonesia. VCO ini ternyata memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Banyak kesalahkaprahan terhadap persepsi minyak kelapa alam ini. Menurutnya justru mulai Desember 2006 kemarin USA telah melakukan pelarangan penggunaan minyak non minyak kelapa. Sehingga diperkirakan minyak kelapa akan menjadi booming.
Beliau juga salah satu pengampu mata kuliah Kimia Fisika Khususnya Kinetika Reaksi. Rupanya beliau menerapkan ilmu kimia fisikanya sekaligus mengawinkan ilmu bisnisnya. Akan menjadi bisnismen sukses ke depan. Teori-teori yang terkesan memusingkan dan terasa jauh dari aplikasi ternyata sangat besar dan begitu mudah untuk diapahami. Mungkin teori di bangku kuliah mesti lebih realistis. Kondisi yang tidak seperti itu maka sampai kapanpun ilmu kimia yang terkesan membuat berpikir keras menjadi tidak didekati.
Dalam pengolahan buah kelapa, di “pabrik pak Bambang” ini semuanya bagian bisa ia “bisniskan”. Apalagi konsep yang ia angkat adalah konsep bisnis kerakyatan. Ia berusaha memberdayakan petani kecil yang jauh dipelosok. Selama ini menurutnya kelapa tidak dipandang. Ditangan pak bambang nilai buah kelapa menjadi 371% dari nilai kelapa kalau dijual tanpa olahan. Ada beberapa sentra yang telah ia buat. Dan ada sekitar 23 Propinsi telah memiliki perwakilan untuk pengolahan buah kelapa, terutama wilayah yang memiliki pohon-pohon kelapa dengan potensi yang besar.
http://urip.wordpress.com/2007/07/27/aplikasi-kimia-fisika-dalam-pengolahan-buah-kelapa/
Ditulis dalam berita | Leave a Comment »
Kebangkitan biokimia diawali dengan penemuan pertama molekul enzim, diastase, pada tahun 1833 oleh Anselme Payen. Tahun 1828, Friedrich Wöhler menerbitkan sebuah buku tentang sintesis urea, yang membuktikan bahwa senyawa organik dapat dibuat secara mandiri. Penemuan ini bertolak belakang dengan pemahaman umum pada waktu itu yang meyakini bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat oleh organisme. Istilah biokimia pertama kali dikemukakan pada tahun 1903 oleh Karl Neuber, seorang kimiawan Jerman. Sejak saat itu, biokimia semakin berkembang, terutama sejak pertengahan abad ke-20, dengan ditemukannya teknik-teknik baru seperti kromatografi, difraksi sinar X, elektroforesis, RMI (nuclear magnetic resonance, NMR), pelabelan radioisotop, mikroskop elektron, dan simulasi dinamika molekular. Teknik-teknik ini memungkinkan penemuan dan analisis yang lebih mendalam berbagai molekul dan jalur metabolik sel, seperti glikolisis dan siklus Krebs. Perkembangan ilmu baru seperti bioinformatika juga banyak membantu dalam peramalan dan pemodelan struktur molekul raksasa.
Saat ini, penemuan-penemuan biokimia digunakan di berbagai bidang, mulai dari genetika hingga biologi molekular dan dari pertanian hingga kedokteran. Penerapan biokimia yang pertama kali barangkali adalah dalam pembuatan roti menggunakan khamir, sekitar 5000 tahun yang lalu.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Sebetulnya bakteri ini dapat menginfeksi/masuk pada tubuh manusia di semua golongan umur, namun menimbulkan gejala penyakit yang berat pada golongan rentan seperi bayi dibawah 1 tahun terutama yang prematur, berat badan rendah, berusia di bawah 1 bulan atau bayi yang terkena HIV (bayi dengan daya tahan rendah). Artinya, bakteri bisa berada dalam tubuh manusia, tetapi tidak selalu memberikan gejala penyakit.
Bakteri ini bisa berada dalam susu formula dan makanan bayi (bubur) melalui tiga kemungkinan yaitu dari kontaminasi dari bahan dasarnya, pada saat proses pembuatan setelah pasteurisasi atau pada saat penyiapannya (di rumah tangga). Bakteri dapat mati bila berada pada suhu >70 derajat celcius.
Masuknya/infeksi E.sakazakii pada tubuh bayi sekitar 80 % terjadi melalui susu formula dan tidak pernah ditemukan melalui ASI. Bacteri ini ditemukan oleh ilmuwan di Jepang pada sekitar tahun 80 an
Ditulis dalam berita | Leave a Comment »
welcome to my blog.
mohon bantuan untuk memperindah blog ini ya.
kirim koment yaaa
Ditulis dalam kimia | Leave a Comment »
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »






































